Monday, February 27, 2017

Proses Organisasi

Apa saja proses organisasi?

Proses Organisasi memberikan kehidupan pada organisasi. Ketika proses-proses tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka masalah akan muncul. Sejumlah proses yang berkontribusi pada kinerja organisasi yang efekif yaitu proses komunikasi, proses pengambilan keputusan, dan proses kepemimpinan.

1. Proses Komunikasi
Keberlangsungan organisasi bergantung pada kemampuan manajemen untuk menerima, mengirimkan, dan menindaklanjuti informasi. Proses komunikasi menghubungkan orang-orang yang ada di dalam organisasi. Namun informasi juga mengintegrasikan aktivitas-aktivitas internal dari organisasi.

2. Proses Pengambilan Keputusan
Kualitas pengambilan keputusan dalam organisasi bergangtung kepada pemilihan tujuan yang tepat dan pengidentifikasian cara pencapaian. Organisasi bergantung kepada keputusan individu dan juga keputusan kelompok, dan manajemen yang efektif memerlukan pengetahuan akan kedua jenis keputusan itu.

3. Proses Kepemimpinan
Dalam semua organosasi tentunya selalu ada sosok pemimpin. Pemimpin dapat ditemukan dikelompok formal dan juga informal. Pemimpin mungkin berjabatan manager ataupun bukan manajer. Pentingnya kepemimpinan efektif untuk mencapai kinerja optimal individu, kelompok, dan organisasi sangat besar sehingga banyak dilakukan usaha menentukan penyebab dari kepemimpinan semacam itu.
Banyak pendapat bahwa satu gaya kepemimpinan efektif digunakan untuk semua situasi. Namun, ada pula pendapat bahwa setiap situasi memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda dan spesifik.


sumber:
Ivancevich, John M., Konopaske, Robert., Matteson, Michael T. 2007. Perilaku dan Manajemen Organisasi Edisi Ketujuh. Jakarta : Erlangga

Contoh Bab I Skripsi

Pada postingan kali ini, saya akan memberikan contoh penulisan Bab 1 Skripsi, yaitu sebagai berikut:

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Lingkungan kerja merupakan aspek penting di dalam suatu organisasi. Lingkungan kerja yang kondusif akan mempengaruhi jalannya aktivitas organisasi untuk dapat bersaing dengan organisasi lainnya untuk mencapai kesuksesan. Menurut Spector (dalam Raziq & Raheela, 2015, p.718) banyak perusahaan bisnis yang mengabaikan lingkungan kerja sehingga dampaknya merugikan bagi kinerja dari karyawannya.

Karyawan membutuhkan lingkungan kerja yang bebas dari masalah yang akan menghambat perkembangan potensi mereka. Lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja, yang dapat mempengaruhi seorang pekerja dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan.
Menurut Opperman (dalam Noah & Steve, 2012, p.37) lingkungan kerja dibagi menjadi tiga dimensi yaitu: lingkungan teknik, lingkungan manusia, dan lingkungan organisasi. Pertama, lingkungan teknik memiliki indikator: peralatan, perlengkapan, infrastruktur, dan elemen fisik lainnya. Kedua, lingkungan manusia memiliki indikator: hubungan dengan rekan kerja, hubungan dengan tim kerja, hubungan dengan pimpinan, dan hubungan dengan manajemen. Ketiga, lingkungan organisasi memiliki indikator: sistem kerja, prosedur, pelatihan, nilai dan filosofi organisasi.

Lingkungan kerja menjadi stimulus dalam menentukan sikap kerja karyawan. Menurut Robbin & Judge (2015, h.46) dalam memahami sikap kerja, terdapat tiga sikap kerja yang utama yaitu: kepuasan kerja, keterlibatan kerja, dan komitmen organisasi.

Lingkungan kerja akan berdampak kepada kepuasan kerja karyawan. Bakotic & Babic (2013) menerangkan bahwa kondisi lingkungan kerja merupakan bagian penting untuk mencapai kepuasan kerja karyawan, oleh karena itu karyawan yang bekerja pada kondisi lingkungan kerja yang tidak kondusif akan mengalami ketidakpuasan kerja. Untuk meningkatkan kepuasan kerja tersebut, organisasi atau manajemen harus memperbaiki kondisi lingkungan kerjanya (dalam Raziq & Raheela, 2015, p.719).

Menurut Robbins & Judge (2015, h.46) kepuasan kerja (job performance) merupakan suatu perasaan positif tentang pekerjaan yang dihasilkan dari suatu evaluasi pada karakteristik-karakteristiknya. Seorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memiliki perasaan yang positif mengenai pekerjaannya, sedangkan seorang dengan level rendah memiliki perasaan negatif.
Menurut ivancevich, et al (2007, h.90) mengemukakan faktor penting yang berhubungan dengan kepuasan kerja yaitu: imbalan, pekerjaan itu sendiri, peluang promosi, supervisi, rekan kerja, kondisi pekerjaan, dan keamanan kerja.

Menurut Hasibuan (dalam Asrori dan Triyani, 2012, h.71) kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja.
Lingkungan kerja, disiplin dan kepuasan kerja akan berdampak pada kinerja karyawan. Donni (2014, h.269) menjelaskan bahwa kinerja merupakan perwujudan dari kemampuan dalam karya nyata yang dicapai pegawai dalam mengemban tugas dan pekerjaan yang berasal dari organisasi.
PT. Mediate Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Advertising Agency dibawah naungan dari MNC Group. PT. Mediate Indonesia terletak di Jl. Kebon Sirih No.17-19, Gd. INews Lt.5 Jakarta Pusat. Menurut Ibu Ajeng (Mbak Caca), selaku HRD/GA PT. Mediate Indonesia, perusahaan baru melalui pemindahan lokasi kerja selama 2 bulan. Oleh karena itu, proses adaptasi karyawan di gedung yang baru tersebut tentunya akan berdampak pada kinerja karyawannya. Beliau menambahkan bahwa lingkungan kerja yang sekarang pasti akan berdampak langsung dengan kinerja karyawannya dikarenakan desain ruangan dan tata letak belum optimal (wawancara di Gd. INews, 6 Okt 2016. 15.00 WIB).

Berdasarkan table di atas, dapat diketahui bahwa jumlah hari kerja selama periode bulan Januari-Agustus 2016 ialah 162 hari kerja. Rata-rata hari kerja perbulan PT. Mediate Indonesia yaitu 20 hari kerja. Jam kerja dimulai pukul 09.00-18.00 WIB.  Jumlah karyawan pada PT. Mediate Indonesia yaitu 62 orang (PT. Mediate Indonesia, 2016).

Grafik mengenai pelanggaran terhadap absensi karyawan PT. Mediate Indonesia tahun 2016 relatif mengalami peningkatan khusunya pada periode bulan Juni dan Agustus. Grafik tersebut juga menjelaskan bahwa karyawan lebih memilih untuk tidak melakukan absensi di pagi hari jika datang telat (late) di bandingkan harus mengisi absensi pagi. Hal tersebut dikarenakan karyawan yang telat diwajibkan memberikan surat keterangan mengenai alasan karyawan tersebut telat (late) (hasil wawancara dengan Ibu Ajeng, 9 Okt 2016, 15.00 WIB).

Pelanggaran terhadap absensi yang terjadi di PT. Mediate Indonesia menunjukan bahwa kinerja karyawan tidak optimal. Presentase pelanggaran tiap bulannya relatif meningkat khusunya pada bulan Juni 46% ( 568 kali pelanggaran) dan Agustus 45% (552 kali pelanggaran). Total pelanggaran terhadap absensi sebanyak 3015 atau sebanyak 30% pelanggaran yang terjadi pada periode Januari –Agustus 2016.

Berdasarkan data di atas, tindakan pelanggaran karyawan PT. Mediate Indonesia mencerminkan disiplin kerja mereka. Disiplin kerja dalam hal ini berupa waktu kerja. Disiplin kerja karyawan PT. Mediate Indonesia akan memberikan pengaruh terhadap kinerja karyawan itu sendiri.

Nitisemito (dalam Setiawan, 2013) mengemukan disiplin sebagai suatu sikap, perilaku, dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan, baik terrulis maupun tidak tertulis. Menurut Rivai (2009, h.825) disiplin kerja merupakan suatu alat yang digunakan manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka besedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan ketersediaan seseorang untuk menaati peraturan dan norma yang berlaku.

Lingkungan kerja menjadi stimulus dalam menentukan kepuasan kerja karyawan yang tentunya akan berdampak kepada disiplin karyawan sehingga kinerja karyawan PT. Mediate Indonesia akan meningkat. Kinerja karyawan PT. Mediate Indonesia dapat dinilai dari perilaku dan hasil, serta tingkat ketidakhadiran (absent) karyawan. Kinerja karyawan yang baik memberikan keuntungan bagi kesuksesan perusahaan.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, penulis ingin melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Disiplin Kerja dan Kepuasan Kerja serta dampaknya terhadap Kinerja Karyawan PT. Mediate Indonesia tahun 2016”

1.2 Masalah Pokok
Setiap perusahaan memahami pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, sehingga mampu mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri karyawannya. Lingkungan kerja yang baik dan kondusif akan mempengaruhi  kepuasan kerja dan disiplin kerja karyawan, sehingga kinerja karyawan juga akan meningkat.

Untuk lebih jelasya mengeni Contoh Bab I Skripsi, bisa kalian download filenya di bawah ini:

Thursday, June 26, 2014

KEPRIBADIAN DAN PERILAKU KONSUMEN

Apakah kepribadian itu?

Penekanan dalam definisi ini adalah pada sifat-sifat dalam diri atau sifat-sifat kewajiban yaitu kualitas, sifat, pembawaan, kemampuan mempengaruhi orang dan perangai khusus yang membedakan satu individu dari individu lainnya. Sifat-sifat itu akan mempengaruhi cara konsumen merespon usaha promosi para pemasar, dan kapan, dimana, dan bagaimana mereka mengkonsumsi produk atau jasa tertentu.
Sifat-sifat dasar kepribadian

· Kepribadian mencerminkan perbedaan individu
Kepribadian individu merupakan kombinasi unik berbagai faktor, tidak ada dua individu yang betul-betul sama. Walaupun demikian, banyak individu yang mungkin mirip dari sudut satu karakteristik pribadi, tetapi tidak dari sudutn karakteristik pribadi lain.

· Kepribadian bersifat konsisten dan bertahan lama

Kepribadian individu cenderung konsisten dan bertahan lama. Walaupun para pemasar tidak dapat mengubah kepribadian konsumen supaya sesuai dengan produk mereka, jika mereka mengetahui karakteristik kepribadian mana yang mempengaruhi respon khusus konsumen, mereka dapat berusaha menarik perhatian melalui sifat-sifat relavan yang melekat pada kelompok konsumen yang menjadi target mereka. 

· Kepribadian dapat berubah
Kepribadian seseorang berubah tidak hanya sebagai respon terhadap berbagai peristiwa yang terjadi tiba-tiba, tetapi juga sebagai bagian dari proses menuju kedewasaan secara berangsur-angsur.

Teori kepribadian

· Teori Freud
Teori ini dibangun atas dasar pemikiran bahwa kebutuhan atau dorongan yang tidak disadari, terutama dorongan seksual dan dorongan biologis lainnya, merupakan inti dari motivasi dan kepribadian manusia.

Id, Superego, Ego
Konsep id dirumuskan sebagai “gudang” dari berbagai dorongan primitif dan implusif kebutuhan fisiologis dasar seperti rasa haus, rasa lapar, dan seks yang diusahakan individu untuk dipenuhi segera terlepas dari apa cara-cara khusus yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu. Konsep superego dirumuskan sebagai pernyataan diri individu mengenai moral dan kode etika yang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan ego merupakan pengendalian individu secara sadar.

Teori Freud dan “Kepribadian Produk”
Pada studi kepribadian konsumen percaya bahwa dorongan pada manusia sebagian besar tidak disadari dan bahwa para konsumen terutama tidak menyadari alasan mereka yang sebenarnya mengapa membeli barang atau jasa yang mereka beli. 

· Teori Kepribadian Neo-Freud
Teori ini percaya bahwa hubungan sosial menjadi dasar pembentukan dan pengembangan kepribadian. Harry Stack Sullivan, pengikut neo-freud lainnya, menekankan bahwa manusia terus-menerus berusaha membangun hubungan yang berarti dan bermanfaat dengan orang lain. Dia juga mengungkapkan bahwa individu dikelompokan kedalam tiga golongan kepribadian: patuh (compliant), agresif, dan lepas dari orang lain (detached). 

· Teori Sifat
Orientasi teori sifat terutama bersifat kuantitatif atau empiris, teori ini memfokuskan pada pengukuran kepribadian menurut karakteristik psikologis yang khusus, yang disebut sifat. Sifat didefinisikan sebagai cara yang khas dan relatif bertahan lama yang dapat membedakan seorang individu dari individu lain. Ada beberapa tes yang digunakan untuk mengukur sifat individu seperti keinovatian konsumen (seberapa besar kemauan seseorang untuk menerima berbagai pengalaman baru), materialisme konsumen (tingkat kecenderungan konsumen pada kepemilikan duniawi), etnosentrisme konsumen (kemungkinan konsumen untuk menerima atau menolak berbagai produk buatan luar negri).

Kepribadian Dan Memahani Perbedaan Konsumen

Para pemasar tertarik untuk memahami bagaimana kepribadian mempengaruhi prilaku konsumsi, karena pengetahuan tersebut memungkinkan mereka mampu memahami konsumen dengan lebih baik dan mampu membidik para konsumen yang cenderung menanggapi secara positif komunikasi mengenai produk atau jasa.

Keinovatifan Konsumen Dan Sifat Kepribadian Yang Berkaitan

Sifat-sifat kepribadian yang berguna untuk membedakan antara inovator konsumen dan bukan inovator meliputi:

· Keinovatifan konsumen
Para peneliti konsumen telah berusaha menyusun instrumen pengukuran untuk menaksir tingkat keinovatifan konsumen, karena ukuran sifat kepribadian tersebut memberikan wawasan yang penting mengenai sifat dan batas-batas kesediaan konsumen untuk berinovasi 

· Dogmatisme
Adalah sebuah sifat kepribadian yang mengukur tingkat kekakuan (versue keterbukaan) yang ditunjukkan individu terhadap hal yang belum dikenal dengan baik dan terhadap informasi yang berlawanan dengan kepercayaan mereka yang sudah mendalam 

· Karakter sosial
Memfokuskan pada identifikasi dan penggolongan individu ke dalam “berbagai tipe” sosial budaya yang berbeda.

· Tingkat stimulasi optimum
Berkaitan dengan kesediaan yang lebih besar untuk mengambil resiko, mencoba berbagai produk baru, menjadi inovatif, mencari informasi yang berhubungan dengan pembelian, dan menerima fasilitas eceran yang baru daripada tingkat stimulasi optimum yang rendah

· Pencari variasi kesenangan baru
Sifat yang digerakkan oleh kepribadian yang persis sama dan berhubungan dengan TSO adalah pencari variasi atau kesenangan baru. Ada berbagai tipe konsumen pencari variasi: perilaku pembelian yang bersifat penyelidik, penyelidikan pengalaman orang lain, dan keinovatian pemakai.

Faktor Kepribadian Kognitif 

· Kebutuhan akan kognisi
Karakteristik kepribadian kognitif yang menjanjikan adalah kebutuhan ini mengukur kebutuhan atau kesenangan seseorang untuk berfikir.

· Orang yang suka visual versus orang yang suka verbal
Orang yang suka visual (konsumen yang lebih menyukai informasi visual dan produk yang menekankan pada penawaran visual, seperti keanggotaan dalam klub videotape) atau orang yang suka verbal (konsumen yang lebih menyukai informasi dan produk tertulis atau verbal, seperti keanggotaan dalam klub buku atau klub audiotape).

Dari Materialisme Konsumen Sampai Ke Konsumsi Komplusif

· Matrealisme konsumen
Matrealisme (tingkat di mana seseorang dianggap “materialistis). Ciri-ciri yang mendukung orang matrealistis seperti berikut ini: mereka sangat menghargai barang-barang yang dapat diperoleh dan dapat dipamerkan, mereka sangat egosentris dan egois, mereka mencari gaya hidup dengan banyak barang, kebanyakan milik meraka tidak memberikan kepuasan pribadi yang lebih besar. 

· Perilaku konsumen yang mendalam
Perilaku ini termasuk perilaku yang normal dan diterima secara sosial. Konsumen yang mendalam umumnya memiliki karakteristik berikut: minat yang dalam terhadap barang atau golongan produk tertentu, kesediaan untuk berpergian jauh dalam rangka menambah contoh-contoh barang atau golongan produk yang diminati, dedikasi untuk mengorbankan uang dan waktu yang banyak secara bebas untuk mencari barang atau produk tersebut.

· Perilaku konsumsi yang komplusif
Perilaku ini termasuk perilaku yang abnormal yang merupakan contoh sisi gelap konsumsi. 

Kepribadian Merek

Personifikasi Merek
Beberapa pemasar merasa bermanfaat jika mereka menciptakan personifikasi merek, yakni mereka berusaha menuangkan kembali persepsi konsumen mengenai sifat-sifat produk atau jasa “karakter manusiawi”. Banyak konsumen yang menyatakan perasaan diri mereka mengenai produk atau merek menurut kepribadian yang mereka kenal.

Kepribadian Produk Dan Gender
Pemberian gender sebagai bagian dari gambaran kepribadian produk sesuai sekali dengan realitas pasar bahwa produk dan jasa, pada umumnya, dipandang oleh konsumen mempunyai gender.

Kepribadian Dan Warna
Para konsumen tidak hanya mengaitkan sifat-sifat kepribadian ke produk dan jasa, tetapi mereka juga cenderung menghubungkan berbagai faktor kepribadian ke berbagai warna khusus. Untuk mengungkap pandangan tersebut, para peneliti menggunakan berbagai macam teknik pengukuran kualitatif, seprti observasi, kelompok fokus, wawancara yang mendalam, dan teknik proyektif.

Diri Dan Citra Diri

Para konsumen mempunyai berbagai macam citra diri mereka yang abadi. Citra diri ini, atau “persepsi mengenai diri” sangat erat hubungannya dengan kepribadian, di mana orang cenderung membeli produk dan jasa serta menjadi pelanggan perusahaan ritel yang mempunyai citra atau kepribadian yang cocok dengan citra diri mereka sendiri.

· Satu atau banyak pribadi
Secara historis, individu dianggap mempunyai citra diri tunggal dan tertarik, sebagai konsumen, pada produk dan jasa yang dapat memuaskan pribadi yang tunggal itu. Tetapi, akan lebih tepat menganggap bahwa para konsumen mempunyai banyak pribadi.

· Susunan citra diri
Citra diri seseorang adalah khas, hasil dari perkembangan latar belakang dan pengalaman orang tersebut. Individu mengembangkan citra dirinya melalui interaksi dengan orang lain pada mulanya dengan orang tua mereka, dan kemudian orang-orang dan kelompok-kelompok lain yang mempunyai hubungan dengan mereka selama bertahun-tahun. Ada beberapa ragam citra diri sebagai berikut: citra diri aktual (bagaimana konsumen memandang diri mereka dalam kenyataan), citra diri ideal (bagaimana konsumen ingin memandang diri mereka), citra diri sosial (bagaimana konsumen merasa orang lain memandang mereka), citra diri sosial ideal (bagaimana konsumen ingin dipandang oleh orang lain), citra diri yang diharapkan (bagaimana konsumen diharapkan memandang diri mereka di waktu tertentu di masa yang akan datang). Citra diri yang diharapkan terletak diantara citra diri aktual dan citra diri ideal, yang merupakan kombinasi yang berorientasi ke masa depan.

· Perluasan diri
Saling keterkaitan antara citra diri konsumen dan kepemilikannya (yaitu, barang-barang yang mereka sebut “milik” mereka) merupakan topik yang mengasyikkan. Tegasnya barang milik konsumen dipandang “menegaskan” atau “memperluas” citra diri mereka. Telah dikemukakan bahwa kepemilikan dapat memperluas diri dengan beberapa cara: secara aktual, secara simbolis, dengan memberikan status atau peringkat, dengan memberikan perasaan pribadi para penerima, dengan memberkahi dengan kekuatan gaib.

Mengubah Pribadi
Mengubah diri seseorang, terutama penampilan atau bagian tubuh seseorang, dapat dicapai dengan kosmetik, mengubah gaya dan warna rambut, membuat tato, beralih dari kacamata ke lensa kontak (atau sebaliknya), atau menjalani bedah kecantikan.

Keangkuhan Dan Perilaku Konsumen
Dengan menggunakan skala keangkuhan, para peneliti telah mempelajari keangkuhan fisik (perhatian yang berlebih terhadap dan atau pandangan yang positif atau terlalu tinggi terhadap penampilan fisik seseorang) maupun keangkuhan prestasi(perhatian yang berlebih terhadap pandangan yang positif atau terlalu tinggu terhadap prestasi pribadi seseorang). Mereka menemukan bahwa kedua gagasan ini berkaitan dengan matrealisme, pemakaian kosmetik, perhatian pada pakaian, dan keanggotaan country club.

Kepribadian Atau Diri Yang Sesungguhnya
Gagasan kepribadian virtul atau diri virtul memberi kesempatan pada individu untuk mencoba kepribadian yang berbeda atau identitas yang berbeda, mirip dengan pergi ke mal dan mencoba berbagai pakaian yang berbeda di toko serba ada atau toko barang-barang khusus. Jika identitas itu sesuai, atau kepribadian dapat ditingkatkan, orang mungkin memutuskan untuk memelihara kepribadian baru dengan memperbaiki kepribadian lama.

sumber : Leon G. Schiffman dam Leslie L, Costumer Behavior, Elevert Edition 2010

Wednesday, June 25, 2014

Makalah Marketing Ethics and Social Responsibility

Pendahuluan 

Konsep pemasaran yang kita tahu yaitu memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara lebih efektif dari pesaing, Misalnya produk seperti tembakau dan alcohol untuk memenuhi kebutuhan konsumen (needs) namun produk tersebut berbahaya, dan masih banyak lagi produk yang sering digunakan secara signifikan dan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim (misalnya kemasan produk yang sering digunakan namun tidak dapat digunakan kembali kemasannya). Dengan fakta seperti itu, maka perusahaan harus memiliki tanggung jawab sosial yang merupakan komponen integral dalam mengambil keputusan pemasaran untuk menyeimbangkan kebutuhan sosial dengan kebutuhan individu dan organisasi. Konsep pemasaran sosial mensyaratkan bahwa semua pemasar mematuhi prinsip-prinsip tanggung jawab sosial dalam pemasaran barang dan jasa; yaitu mereka harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar sasaran mereka dengan cara melestarikan dan meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat secara keseluruhan, namun tetap memenuhi tujuan organisasi .

Saturday, June 15, 2013

Contoh Proposal Penelitian Bab I

Kali ini gua bakal ngeShare tugas dari dosen MPS alias Metode Penelitian Sosial. Dosen gua ini menugaskan membuat Proposal Penelitian buat tugas akhir sebelum uas. Nah yang gua share sekarag adalah Contoh Proposal Penelitian Bab I yang gua buat bareng kelompok gua. Semoga apa yang gua share bisa bermanfaat yaa.


Proposal Penelitian

  1. Mata Kuliah : Metode Penelitian Sosial
  2. Tema Penelitian : Pemasaran
  3. Topik Penelitian : Promosi penjualan terhadap permintaan konsumen 
  4. Judul Penelitian : Pengaruh Promosi Penjualan terhadap Permintaan Barang/Jasa bagi Mahasiswa IISIP Jakarta 2012

Friday, June 14, 2013

EIGENRICHTING

Eigenrichting dalam ilmu hukum yaitu merupakan tindakan menghakimi sendiri atau aksi sepihak. Tindakan ini yaitu seperti memukul orang yang telah menipu kita, ataupun tindakan menyekap orang yang tidak mau melunasi hutangnya kepada kita. Tindakan menghakimi sendiri seperti ini merupakan tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendak sendiri dengan sewenang-wenang tanpa persetujuan pihak lain yang berkepentingan. Dalam hukum, perorangan tidak diperkenankan melaksanakan sanksi kepada sesorang untuk menegakkan hukum karena pelaksanaan sanksi adalah monopoli penguasa. 

Tuesday, May 7, 2013

Memahami Tim Kerja

Memahami Tim Kerja

Perbedaan antara Kelompok Kerja dan Tim Kerja

Kelompok kerja dan Tim kerja bukanlah hal yang sama. Kelompok kerja adalah kelompok yang berinteraksi terutama untuk berbagi informasi dan membuat berbagai keputusan untuk membantu setiap anggota bekerja di dalam area tanggung jawabnya. Kelompok kerja tidak mempunyai kebutuhan atau kesempatan untuk terlibat dalam kerja kolektif yang membutuhkan usaha bersama. Dengan kaa lain kinerja mereka adalah gabungan akhir dari kontribusi individual setiap anggota kelompok.